Mataram, 15 Juni 2026 – Sebanyak 2.156 peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan LPTK UIN Mataram Batch 3 dan 4 Tahun 2025 resmi dikukuhkan sebagai guru profesional pada Senin (15/6/2026). Prosesi pengukuhan dipimpin oleh Wakil Rektor I UIN Mataram, Prof. Dr. H. Adi Fadli, M.Ag.

Pengukuhan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring dan daring melalui Zoom Meeting, mengingat peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 10 peserta mengikuti kegiatan secara tatap muka, sekitar 1.000 peserta bergabung melalui Zoom, sedangkan peserta lainnya mengikuti prosesi melalui siaran langsung di kanal YouTube UIN Mataram.

Dalam sambutannya, Prof. Adi Fadli menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan perjuangan para peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian Program PPG hingga berhasil meraih predikat guru profesional. Ia menekankan bahwa seorang pendidik tidak hanya dituntut memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya dalam perilaku dan keteladanan.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, Prof. Adi menjelaskan bahwa hakikat ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan harus melahirkan akhlak dan kemanfaatan bagi sesama. Ia juga mengingatkan bahwa guru hendaknya memperlakukan peserta didik sebagaimana mereka menginginkan perlakuan terbaik bagi anak-anaknya sendiri.

Mewakili seluruh peserta, Firman Maulana menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh jajaran UIN Mataram yang telah memberikan pelayanan dan pendampingan selama proses pendidikan profesi guru hingga tahap pengukuhan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan sekaligus Ketua LPTK UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd., menegaskan bahwa guru profesional harus memiliki empat kompetensi utama, yaitu kemampuan antisipatif, kemampuan adaptif, kemampuan mengidentifikasi, dan kemampuan reorientasi.

Menurutnya, keempat kemampuan tersebut menjadi karakteristik yang membedakan penyandang gelar Guru Profesional (Gr.), sekaligus bekal penting untuk menghadapi dinamika dan tantangan pendidikan yang terus berkembang.

“Di era digital, perubahan berlangsung sangat cepat dan sering kali sulit diprediksi. Standar pendidikan terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan untuk mengantisipasi perubahan, beradaptasi dengan kondisi baru, mengidentifikasi berbagai tantangan, serta melakukan reorientasi dalam menjalankan tugas profesionalnya,” ujarnya.

Prof. Maimun juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin akrab digunakan oleh peserta didik. Menurutnya, kehadiran AI harus dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan.

“Saat ini banyak siswa lebih memilih bertanya kepada AI daripada mengangkat tangan di kelas. Namun, secanggih apa pun teknologi berkembang, profesi guru tidak akan tergantikan karena guru memiliki sentuhan kemanusiaan, nilai moral, dan ikatan emosional dengan peserta didik yang tidak dapat dimiliki oleh teknologi,” tegasnya.

Prosesi pengukuhan berlangsung dengan khidmat dan lancar hingga selesai. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal bagi para guru profesional untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, serta mengabdikan ilmu dan keahliannya demi peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan masing-masing.